|
Adalah perangkat (tools) yang disediakan pada browser yang anda miliki, bisa menggunakan Mozilla atau lainnya. Fungsinya adalah memudahkan anda untuk mengetahui informasi terbaru tentang kegiatan dan aktifitas Surau Baitul Amin. |
|
| detail |
| Baitul Mal Wa Tamwil (BMT): Bentuk Lain Silaturahmi |
| Ditulis oleh Baitul Amin | |
|
Lebih lanjut, dalam sambutannya, Ketua Yayasan menyampaikan, "BMT adalah bentuk nyata silaturahmi. Bukan unit usaha yang bertujuan untuk memperkaya diri." Pesan ini tertulis pada prasasti sebagai tanda didirikannya BMT Baitul Amin dan akan menghiasi kantor BMT kelak. Baitul Maal wat Tamwil (BMT) terdiri dari dua istilah, yaitu Baitul Maal dan Baitul Tamwil. Baitul Maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dana dan penyaluran dana non profit, seperti zakat, infaq dan shodaqoh. Sementara itu Baitul Tamwil sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial. Dalam menjalankan usahanya, BMT menggunakan prinsip seperti bank syariah yang terdiri dari prinsip bagi hasil, prinsip jual beli, prinsip non profit, prinsip bersyarikat dan prinsip pembiayaan. Gagasan untuk membentuk BMT ini telah cukup lama, sebagaimana disampaikan Abang Ardiansyah Aidil, yang kini berperan sebagai Manajer Operasional BMT Baitul Amin. "Idenya terjadi di Lebak Bulus, Bang Arie (H. Akhmad Syukran Bestari SE. MMSi, Pengurus Surau Baitul Amin - red) ingin memberdayakan ekonomi (para jamaah) melalui BMT. Dua tahun yang lalu Ketua Yayasan juga mendukung pendirian BMT, cuma saat itu belum dilakukan. Ada sekitar 30 orang membentuk koperasi, namun belum ada aksi yang konkrit". Lanjut Bang Aidil, "Jalan untuk mewujudkan ide ini semakin terbuka di tahun 2008 lalu. Menjelang bulan Ramadhan ada seorang jemaah yang ingin meminjam uang secara pribadi ke Bang Arie. Peminjaman itu diarahkan menjadi konsep BMT, dengan konsep bagi hasil." Bedanya dengan peminjaman lain, dalam konsep BMT Baitul Amin peminjam akan didampingi oleh seorang mentor untuk membantunya menjalankan bisnis dengan lebih baik. "Selain asistensi teknis mengenai pengelolaan bisnis, misalnya membuat laporan keuangan sederhana, ’mentoring’ yang dilakukan ditujukan untuk membantu para pelaku bisnis merubah pola pikir yang mengarah kepada karakter akhlakul karimah," demikian Bang Aidil menjelaskan.
Memasuki tahun 2009, peminjam yang sekaligus menjadi role model konsep peminjaman berikutnya ditambah dua orang, menjadi tiga orang. Pendampingan terus dilakukan untuk mempelajari dan memonitor proses bisnis dan berbagai tantangannya. Melihat hasil yang sangat positif, BMT secara resmi didirikan pada tanggal 2 Juli 2009 lalu, bertempat di Gedung Perpustakaan Baitul Amin (Perpusba) dan dihadiri oleh Bapak Rudi Faisal, SH, Asisten Direktur Deputi Urusan Bidang Organisasi dan Badan Hukum Koperasi dan Bapak Jauhari SH, selaku Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Negara Koperasi & UKM. Acara peresmian yang dipadu dengan diskusi dan tanya jawab ini diikuti pula oleh sekitar 60 orang undangan termasuk para pengurus dan anggota KJKS Baitul Amin Sawangan. Kepada Mozaik, Bang Fadil menceritakan, "Saya dulu belum menjalankan prinsip-prinsip bisnis Islami," saat ditanya pola bisnisnya dulu. Tidak beda dengannya, Bang Syafri juga mengakui dulu menjalankan bisnisnya semata untuk mendapatkan laba yang maksimal. "Dengan mentoring dan pendampingan menurut saya sudah ada perubahan. Saya melakukan bisnis dengan hati. Saya pikir bisnis Islami itu antar penjual dan pembeli sama-sama senang," papar Bang Fadil. Manfaat Selain itu, yang dirasakannya adalah kejujuran. Menurutnya, Bang Arie memberi support agar ia memiliki catatan akuntansi. "Dengan catatan itu kita di tes. Kita jujur atau tidak saat menulis di catatan itu," katanya. Hal ini sehubungan dengan skema pendanaan BMT yang sepenuhnya mengacu kepada pelaporan nasabah untuk perhitungan bagi-hasilnya. Sementara itu, Mbak Arfiah berpendapat bahwa salah satu trik keberhasilan pedagang adalah keramahtamahan. "Yang penting kita ramah, sering menyapa dan menegur orang, tersenyum. Itu yang membuat orang senang dan suka dengan kita," jelasnya. Ketiga nasabah awal BMT Baitul Amin yakin bahwa konsep yang diterapkan mereka akan berhasil diterapkan oleh nasabah lainnya. "Saya percaya bisa, namun mentoring penting untuk tetap dilanjutkan," ungkap Bang Fadil. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


