|
Ditulis oleh Kak Mer
|
|
Seorang pencuri memanjat tembok rumah Malik bin Dinar, menyelinap
masuk, tapi ia tidak menemukan apapun yang pantas untuk dicuri.
Sementara tuan rumah yang khusyuk melakukan shalat, memperpendek
shalatnya karena merasa ada sesuatu yang mengganggu. Kemudian
Malik bin Dinar menoleh kearah pencuri itu. Sambil mengucapkan salam,
ia berkata, “Semoga Allah memberimu taubat, engkau memasuki rumahku,
tetapi engkau tidak menemukan sesuatu yang dapat engkau ambil. Namun
aku tidak akan membiarkanmu keluar dengan sia-sia.”
Malik bin Dinar membawakan sebaskom air dan berkata kepadanya,
“Ambillah air wudhu, lalu lakukan shalat 2 rakaat, niscaya engkau nanti
akan keluar dengan membawa sesuatu yang lebih berharga daripada apa
yang engkau cari ke sini!” Mendengar kata-kata dan ketulusan Malik bin
Dinar, pencuri itu terharu lalu ia menjawab, “Baiklah. Aku jadi
tersanjung.” |
|
detail
|
|
|
Ditulis oleh Jusron Faizal
|
|
Nabi berbicara tentang tingkatan tertinggi yang dapat dicapai selama hidup di dunia, dan pernyataan Beliau tentang hal ini disebut hadist qudsi karena kata-katanya langsung dari Allah: Hambaku tidak henti-hentinya mendekati-Ku dengan taat dan tulus, hingga Aku mencintainya; dan ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, menjadi penglihatannya saat ia melihat, dan menjadi tangannya saat ia menggapai, dan menjadi kakinya saat ia melangkah. |
|
detail
|
|
|
Ditulis oleh Baitul Amin
|
|
Saat-saat tidak berperang bukan berarti saat beristirahat bagi Nabi. Beliau menetapkan sepertiga waktunya dalam sehari untuk beribadah, sepertiga untuk bekerja, dan sepertiga lagi untuk keluarganya. Bagian yang ketiga itu termasuk tidur dan makan. Sedangkan untuk beribadah, beliau banyak melakukannya di malam hari. Sebagai tambahan, antara salat isya’ dan subuh, Nabi dan para sahabatnya melaksanakan shalat sunnah. Al Quran juga menyebutkan supaya membaca ayat-ayatnya dan Nabi menganjurkan berbagai bacaan untuk bertobat dan bersyukur.
|
|
detail
|
|
|
Ditulis oleh Suyadi Yusuf
|
|
Salman Al-Farisi dengan nama kecil Mabeh bin Buzdikhsyan punya
ciri-ciri fisik; tubuh tegap tinggi, berkulit putih, garis-garis
wajahnya membayangkan ketentraman dan ketenangan yang memenuhi hatinya.
Sejak usia belasan tahun orang tak pernah mendengar dari mulutnya
selain ucapan-ucapan yang indah berharga. Menunjukkan kecerdasan
pikiran dan emosi, pendapat yang baik dan tutur kata yang menarik. Ia
tampak berjiwa tenang, berperasaan halus, berpembawaan lembut dan
berbudi mulia. |
|
detail
|
|
|
Ditulis oleh Jusron Faizal
|
|
Syekh Abd Al-Qadir Jailani dilahirkan pada 470 H/1077-78 M di Daerah
Gilan di Iran Utara. Saat berusia 18 tahun, ia meninggalkan Gilan
menuju Bagdad, yang sedang semarak dengan aktivitas intelektual yang
tidak pernah terjadi sebelumnya, ke tempat Akademi Nizhamiyyah yang
amat termasyhur itu (berdiri pada 457 H/1065 M). Namun ia kurang
menyukai akademi ini sehingga menyelesaikan studi pada guru lain. |
|
detail
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 9 dari 18 |