|
Adalah perangkat (tools) yang disediakan pada browser yang anda miliki, bisa menggunakan Mozilla atau lainnya. Fungsinya adalah memudahkan anda untuk mengetahui informasi terbaru tentang kegiatan dan aktifitas Surau Baitul Amin. |
|
| detail |
| Jujur dalam Situasi Apapun |
| Ditulis oleh Jusron Faizal | |
|
Syekh Abd Al-Qadir Jailani dilahirkan pada 470 H/1077-78 M di Daerah Gilan di Iran Utara. Saat berusia 18 tahun, ia meninggalkan Gilan menuju Bagdad, yang sedang semarak dengan aktivitas intelektual yang tidak pernah terjadi sebelumnya, ke tempat Akademi Nizhamiyyah yang amat termasyhur itu (berdiri pada 457 H/1065 M). Namun ia kurang menyukai akademi ini sehingga menyelesaikan studi pada guru lain. Karakternya yang jujur dan pengaruhnya pada orang-orang yang berhubungan dengannya jelas terlihat sejak usia belia. Diceritakan bahwa saat dia meninggalkan tanah kelahirannya, ibunya memberikan empat puluh keping emas dan menjahitkannya di dalam jubahnya demi keamanan. Nasihat yang diberikan ibunya sebelum kepergiannya adalah agar dirinya selalu berbuat benar dan jujur. Abd Al-Qadir Jilani berjanji untuk menepatinya. Dalam perjalanan, ada sekawanan perampok menghadang iring-iringan kafilahnya dan melakukan penjarahan. Salah seorang perampok bertanya adakah ia memiliki sesuatu yang disimpannya. Ia menjawab bahwa ia menyimpan empat puluh keping uang emas. Sang perampok yang tidak mempercayainya berlalu begitu saja. Sekali lagi gerombolan pembegal lain menghadang dan menanyakan hal yang sama, ia pun menjawab dengan jawaban tadi. Lalu pemimpin perampok menginterogasi lebih jauh dan menyuruhnya memperlihatkan tempat ia menyimpan uang. Ia melepaskan jubahnya dan memperlihatkan kepada sang perampok yang kemudian menemukan uang yang tersembunyi itu. Pemimpin perampok terkejut dan kebingungan menyaksikan kejujuran anak itu, lalu bertanya mengapa ia memberitahukannya; bukankah ia dapat saja mengatakan bahwa dirinya tak memiliki apa pun dan merahasiakannya demi menyelamatkan uang itu. Abd Al-Qadir Jilani menjawab bahwa ia telah berjanji pada ibunya untuk tetap berkata benar dan jujur dalam situasi apapun. Penyingkapan ini mengguncangkan sang pemimpin perampok itu secara hebat sehingga dia jatuh bersimpuh dan bertobat atas segala perbuatannya, dan berkata : "Engkau menjaga janjimu pada ibumu, sedang kami melupakan janji kami pada Sang Pencipta." Kawanan itu mengembalikan seluruh jarahannya dan bertobat. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


