Skip to content

Surau Baitul Amin Sawangan

Kampus Artikel Komunitas Kontak
 

Informasi

Ayat-Ayat Fitna - Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka - adalah sebuah buku yang ditulis oleh M.Quraish Shihab yang tentu saja tidak mendiskreditkan tentang islam, justru buku ini ditulis untuk meluruskan dari film Fitna yang pernah dipublikasikan di Jerman tempo lalu

detail
 
Navigasi: Beranda arrow Artikel arrow Khazanah arrow Pencarian Salman Al-Farisi
Pencarian Salman Al-Farisi
Ditulis oleh Suyadi Yusuf   

Salman Al-Farisi dengan nama kecil Mabeh bin Buzdikhsyan punya ciri-ciri fisik; tubuh tegap tinggi, berkulit putih, garis-garis wajahnya membayangkan ketentraman dan ketenangan yang memenuhi hatinya. Sejak usia belasan tahun orang tak pernah mendengar dari mulutnya selain ucapan-ucapan yang indah berharga. Menunjukkan kecerdasan pikiran dan emosi, pendapat yang baik dan tutur kata yang menarik. Ia tampak berjiwa tenang, berperasaan halus, berpembawaan lembut dan berbudi mulia.

Ayahnya adalah seorang cendekia dan tokoh yang sangat disegani dan dicintai di antara cendekiawan-cendekiawan agama Majusi. Terpilih sebagai Pengetua Masyarakat Ramharmuz di Isfahan Persia. Orang tua Salman berkehendak supaya anaknya menjadi penerusnya kelak. Ia menerapkan pendidikan yang ketat. Salman tidak diperbolehkan ke luar rumah baik siang maupun malam sebab akan membuatnya jadi lengah dan malas. Salman mempelajari agama dengan rajin dan tekun. Membaca kitab-kitab sehingga mampu menghafal semua ilmu yang ada di dalamnya. Memahami peraturan-peraturan, mengetahui tujuan-tujuan dan maksud-maksudnya.

Suatu ketika Salman ditugaskan oleh ayahnya untuk mengurus tanah pertanian di luar daerah. Di perjalanan dia bertemu para pendeta Masehi sedang menunaikan sembahyang di sebuah gereja yang megah, mengumandangkan do’a-do’a yang manis penuh kerohanian. Salman terpikat oleh agama yang baru ditemuinya lantas memasuki gereja. “Dari mana kah asal agama ini?” tanyanya. “Dari negeri Syam,” jawab pendeta.

Akhirnya Salman merantau ke Syam demi hasrat jiwanya yang belum puas dengan agama Majusi, kepercayaan ayah dan nenek moyangnya. Sesampainya di Syam, Salman belajar dan tinggal di gereja umum bersama seorang uskup. Kemudian ia berguru ke uskup lainnya dalam waktu yang cukup lama. Sewaktu mau meninggal dunia,  uskup itu berpesan agar Salman melanjutkan belajar ke Uskup Monsul.

Salman berkhidmad dan hidup bersama dengan Uskup Monsul. Ketika menjelang ajal Uskup Monsul  berpesan agar mendatangi Uskup Nasibein. Salman belajar dan mengabdi kepada uskup itu.  Saat hampir meninggal, Uskup berwasiat agar Salman melanjutkan belajarnya ke Uskup Amuria. Begitulah dari uskup berganti ke uskup yang lain sampai yang terakhir Uskup Amuria.

Dan seperti sebelumnya, Salman minta nasehat ke Uskup Amuria ketika uskup itu mau menemui ajalnya.  Uskup menjawab dengan terbata-bata:  “Anakku, sungguh tiada lagi seorang pun yang kukenal, tempat engkau kutitipkan. Tapi engkau sekarang sedang dinaungi zaman Nabi yang diutus membawa agama Nabi Ibrahim AS.  Nabi itu akan lahir di Negeri Arab dan akan hijrah ke negeri antara dua kota, di antara dua kota tadi ada pohon-pohon kurma.  Nabi tersebut memiliki tanda-tanda yang segera dapat engkau kenali. Pertama ia mau memakan pemberian yang berupa hadiah. Kedua tidak mau makan pemberian yang berupa sedekah. Dan di antara kedua bahunya ada stempel kenabian.” ujar Uskup.

Setelah itu Salman berangkat ke Madinah bersama rombongan kafilah saudagar Arab. Di perjalanan, dia diseret dan dipajang sebagai budak yang dijual. Hari-hari berikutnya kehidupan Salman berubah menjadi budak, dari tuan yang satu ke tuan yang lain.

Berita tentang Rasulullah di Quba sampai juga ke telinga Salman. Malam pun tiba, diam-diam Salman berangkat ke Quba. Membawa kurma-kurma hasil upah kerjanya. Ketika sampai dihadapan Rasulullah,  Salman memberikan kurmanya sebagai sedekah. Tapi Rasulullah memberikan kepada para Sahabatnya. Malam berikutnya Salman membawa kurma upahnya dan menghadiahkan kepada Rasulullah, Beliau menerima dan memakannya bersama Sahabat. “Benar ini adalah tanda-tandanya,” bisik Salman dalam hati.

Di hari lain Salman mendatangi Rasulullah yang berada di Baqi. Ia mencuri-curi kesempatan untuk melihat stempel kenabian di bahu Rasulullah. Rupanya niatnya diketahui Rasulullah. Beliau sengaja menjatuhkan dua lembar kain yang menutupi punggungnya, tampaklah tanda itu. Selanjutnya Salman berlari mendekat ke Rasulullah seraya memeluk dan menciumi badan Rasulullah sambil menangis sedu sedan.

Salam ta’zim kita yang mendalam kepada Sayyidina Salman Al-Farisi. Dalam silsilah keguruan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah, beliau berada pada urutan kedua setelah Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq R.A.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement

BA Login

Berita dan Informasi

Informasi
Kronik
Agenda

Mutiara Kata

Ketekunan dan kesabaran jika digabungkan menjadi modal yang sangat besar untuk meraih sukses..

No Name
[+]
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size