Skip to content

Surau Baitul Amin Sawangan

Kampus Artikel Komunitas Kontak
 

Informasi

Adalah perangkat (tools) yang disediakan pada browser yang anda miliki, bisa menggunakan Mozilla atau lainnya. Fungsinya adalah memudahkan anda untuk mengetahui informasi terbaru tentang kegiatan dan aktifitas Surau Baitul Amin.

detail
 
Navigasi: Beranda arrow Artikel arrow Khazanah arrow Pengkilap Hati
Pengkilap Hati
Ditulis oleh Jusron Faizal   

Nabi berbicara tentang tingkatan tertinggi yang dapat dicapai selama hidup di dunia, dan pernyataan Beliau tentang hal ini disebut hadist qudsi karena kata-katanya langsung dari Allah:

Hambaku tidak henti-hentinya mendekati-Ku dengan taat dan tulus, hingga Aku mencintainya; dan ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, menjadi penglihatannya saat ia melihat, dan menjadi tangannya saat ia menggapai, dan menjadi kakinya saat ia melangkah.

Bentuk ketaatan tertinggi adalah dzikrullah, yang juga disebut ‘mengingat Allah atau menyebut-nyebut nama-Nya’. Pada salah satu wahyu pertama Nabi diperintahkan:

Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Q.S. 73:8). Wahyu berikutnya mengatakan: Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Dan mengingat Allah adalah lebih utama dari ibadah-ibadah yang lain. (Q.S. 29:45).

Bahwa mengingat Allah adalah penyembuh dari segala rupa penyakit hati ditegaskan oleh Rasulullah: "Segala sesuatu yang berkarat ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah mengingat Allah."

Ketika ditanya tentang siapa tertinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kebangkitan, Beliau menjawab: “Lelaki atau perempuan yang senantiasa berdzikir (mengingat) kepada Allah." Dan saat ditanya, apakah kedudukan orang tersebut lebih tinggi dari orang berjuang di jalan Allah, Beliau menjawab: “Meskipun ia mengacungkan pedangnya kepada orang kafir dan musyrik, hingga semuanya hancur dan pedangnya berlumuran darah, mengingat Allah tetap lebih utama tingkatannya.”

Bahkan di sepanjang perjalanan pulang ke Madinah sesudah kemenangan atas Mekah dan Hunayn, Nabi menuturkan kepada beberapa sahabatnya, “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Salah seorang bertanya, “Apa jihad yang lebih besar itu, hai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jihad melawan hawa nafsu.”

Jiwa terendah dinyatakan oleh Al-Qur’an, “Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Q.S. 12:53). Jiwa yang baik, yaitu kesadaran, disebut, “Jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.” (Q.S. 75:2). Jadi, yang disebut jihad yang lebih besar adalah, dengan bantuan roh keimanan melawan jiwa rendah (hawa nafsu).

Sedangkan jiwa yang telah memenangkan pertarungan disebut ‘jiwa yang tenang’. Jiwa yang telah mencapai tingkatan tertinggi, yang dimiliki orang-orang terkemuka (al-sabiqun al-awwalun), para hamba Allah (ibad Allah), orang-orang yang dekat dengan Allah (al-muqarrabun). Jiwa yang sempurna ini disapa Al-Qur’an dengan kata-kata.

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan rida lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Q.S. 89:27 – 30).

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement

BA Login

Berita dan Informasi

Informasi
Kronik
Agenda

Mutiara Kata

Adalah baik untuk memberi ketika diminta, tapi jauh lebih baik lagi jika memberi tanpa harus diminta.

(Kahlil Gibran)
[+]
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size