|
Setelah dilaksanakan lebih dari 9 angkatan. Pelatihan Sufi Thinking (ST) yang diadakan di Surau Baitul Amin Sawangan telah diikuti lebih 500 alumni yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan Malaysia. Sejauhmana pelatihan tersebut mampu membawa perubahan bagi diri peserta, lingkungan terdekat dan surau?
Minggu, 27 Januari 2008, bertempat di Surau Baitul Amin Sawangan, Depok, Jawa Barat diadakan Reuni) Alumni Sufi Thinking (ST), yang dihadiri oleh 107 peserta dari seluruh Indonesia. Menurut Lead Fasilitator Ab. Rahman Moenggah, SH. LLM, setengah dari jumlah peserta terdiri dari pengurus surau dan sisanya diambil secara random. yang dipandang memiliki potensi sebagai agen perubahan (agent of change) di daerah masing-masing.
Setelah peserta memasuki Auditorium Atas sebagai ruang utama reuni, Bambang Mulyantono selaku pembawa acara menyambut dengan ucapan selamat datang, kemudian memberi gambaran singkat mengenai kegiatan reuni.. Dikatakan pada sesi pertama merupakan individual sharing dan bagian kedua group sharing. Setelah itu dibagi dalam 10 kelompok dan untuk mencairkan suasana, masing-masing kelompok dengan dipandu faskel melakukan perkenalan dan permainan asah otak dengan alat bantu batang-batang korek api. Beberapa menit kemudian Abang H. Akhmad Syukran Bestari SE, MMSI (Bang. Ari) memasuki ruangan dan dipersilahkan membuka acara.  Om Hana membuka kegiatan Reuni dengan gaya santai tapi berbobot Acara dibuka oleh Bang Ari dengan pembacaan Surat Al Fatihah (1 kali) dan Al Ikhlas (3 kali). Dalam sambutan pembukaannya beliau menyampaikan alasan diadakannya reuni hari ini; yaitu disamping sebagai kesempatan bersilaturahmi dan bersantai bersama bagi para jamaah, petugas TN dan warga surau Baitul Amin Sawangan, acara reuni ini juga merupakan waktu yang baik untuk bertanya dan bercermin diri: apakah kontribusi kita kepada TN telah berjalan sebagaimana seharusnya? Pada bagian lain, Bang Ari mengemukakan selama ini, kita telah mengenal kegiatan ubudiyah dalam bentuk pekerjaan fisik seperti membangun fasilitas surau. Namun demikian, makna dari ubudiyah itu sangatlah luas, dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan apa yang dimiliki tiap-tiap orang. ”Menjadi peserta pelatihan, menjadi fasilitator, menggantikan pekerjaan anak suarau (Asgad), berpartipasi menjadi ibu-ibu masak, Itu semua ladang bagi jamaah untuk berubudiyah.” tegas Bang Ari.  Seluruh peserta yang berasal dari pelosok Nusantara berkumpul bersama menyatukan hati Setelah pembukaan masuk sesi individual sharing. Sebagai pengantar diskusi, Bang Hanna Djumhana Bastaman menyampaikan poin-poin pelatihan Sufi Thinking yang telah dilaksanakan selama ini. Tentang pelaksanaan pelatihan sebagai penyampaian konsep Islam kaffah dari YM Abu, Bang Hanna menanyakan kepada peserta, apakah metode tersebut tepat dan sampai untuk mentranfer konsep Islam Kaffah, serentak peserta menjawab; sampai! Di akhir pengantarnya, Bang Hanna menyumbangkan sebuah lagu kenangan lama, yang ternyata ini mencintakan suasana yang lebih santai dan cair sehingga beberapa individual yang memberikan sharing juga menyambung dengan menyajikan lagu.  Kesibuk
an para peliput berita ditengah-tengah kegiatan Poin-poin penting yang muncul dalam individual sharing adalah kesan positif terhadap pelatihan Sufi Thinking, meskipun hanya sekali mengikuti pelatihan, namun telah memberikan perubahan pada diri pribadi. Kemudian di beberapa surau, oleh gerakan yang dimulai pribadi-pribadi yang telah termotivasi tadi, juga terjadi perubahan suasana yang lebih baik. Pukul 09.20 masuk sesi ; group sharing. Sepuluh kelompok tadi dibagi ke dalam tiga group dengan tema bahasan yang berbeda. Group 1 dengan tema bahasan ‘Meramaikan Surau’ terdiri dari 3 kelompok. Group 2 membahas tema ‘Tantangani Surau’ terdiri 4 kelompok, Group 3 membahas tema ‘Potensi Surau’ terdiri dari 3 kelompok. Untuk group sharing dilakukan di ruangan yang berbeda. Group 1 di Perpusba, Group 2 di Ruang Training, dan Group 3 di Ruang Auditorium Atas. Potensi Surau Dalam group yang membahas topik ini peserta diajak untuk menggali sejauhmana potensi yang dimiliki oleh surau, termasuk para ikhwan-akhwat TN, untuk dapat dimanfaatkan secara optimal bagi peningkatan perekonomian, kesejahteraan, pendidikan, keamanan, ketentraman, interaksi sosial serta moral/akhlaq para jamaah maupun masyarakat sekitarnya. Bertindak menyampaikan pengantar diskusi pada kelompok ini adalah Abang Ir. Wahyu Wijaya yang sehari-hari bekerja di Pertamina - Jakarta dan salah satu tugas kesurauannya adalah Staf Penghubung Pantura BKS DKI Jakarta, Jabar & Banten.  Proses fasilitasi kelompok untuk mendiskusikan pengembangan surau Pembahasan mengenai pengembangan potensi ekonomi surau fokus pada hal-hal yang mendukung kemandirian ekonomi surau. Untuk itu diskusi pada kelompok ini merencanakan kiat-kiat yang dapat dilakukan antar sesama ikhwan maupun yang dibentuk melalui kerjasama dengan pihak-pihak ekternal surau. Antara lain melalui program kemitraan dengan warga sekitar surau, keterlibatan investor maupun perolehan pendanaan dari bank atau lembaga keuangan lainnya. Tantangan Surau Memberi pengantar diskusi pada kelompok ini adalah Abang Abdul Muluk dari Makassar – Sulawesi Selatan dan Abang Tri Andri Maryanto dari Malang – Jawa Timur. Menurut mereka, tantangan yang dihadapi oleh surau diartikan sebagai faktor-faktor yang dapat menimbulkan ancaman bahaya terhadap kelangsungan kegiatan peramalan dan ibadah di surau, maupun hal-hal lain yang dapat merugikan nama baik Yayasan/ Ajaran TN. Meramaikan Surau Pada group yang membahas topik ’Meramaikan Surau’ bertindak selaku pemberi pengamtar diskusi adalah Abang H. Akhmad Syukran Bestari SE, MMSI (Bang. Arii). Pembahasan yang dilakukan adalah upaya untuk memakmurkan, menyemarakkan, menggairahkan kegiatan-kegiatan di lingkungan surau pada umumnya dan khususnya kegiatan berkaitan dengan peramalan dan ibadah, agar para jamaah lebih giat berwirid di surau dan semakin giat mengikuti suluk.  Sedang berkonsentrasi mempersiapkan hasil untuk dipresentasikan bersama Setelah diskusi semua peserta kembali ke Auditorium Atas untuk mengikui presentasi perwakilan dari masing-masing group yang dikemas dalam acara dialog interaktif di dengan pemandu acara Abang Rahman Moenggah. Dipenghujung acara Abang Ari menutup dengan membacakan pesan singkat YM Abu sebagai berikut : ”Saya melihat saat ini suatu keadaan yaitu betapa besarnya kecintaan yang luar biasa dari Abang-Abang dan Kakak-Kakak pada YML Ayahanda Guru, pada dzikrullah, yang mengantar kepada kecintaan pada Allah SWT. Saya meras
a bangga, merasa berhutang dan terharu atas itu semua. Hanya satu tekad kita mari kita teruskan pengabdian ini, dengan semangat ikhlas Illahi anta maksudi waridhoka mathlubi. Terima kasih pada Abang-Abang dan Kakak-Kakak, pada panitia dan semua fihak yang membantu terwujudnya kegiatan ini. Insya Allah, dengan syafaat YML Ayahanda Guru, YML Buya, Allah SWT menyayangi, memberi petunjuk dan menolong kita semua. Amin.” |