Skip to content

Surau Baitul Amin Sawangan

Kampus Artikel Komunitas Kontak
 

Informasi

Bermula dari kegelisahan melihat pemberitaan di media massa yang membuat jengah dan menumpulkan nalar. kami menyaring dan mencari dimana sisi yang benar.

detail
 
Navigasi:
Pamit Berburu, Padahal Berguru
Ditulis oleh Jusron Faizal   

jamaan nurPada 12 - 14 Agustus 2009 lalu, petugas dari Surau Baitul Amin Sawangan yang terdiri dari Abang H. Abdul Mujib dan H. Rahmat Sihombing melakukan lawatan ke Bengkulu, untuk berdiskusi seputar tarekat dengan Prof. DR. H. Djamaan Nur, Guru Besar UIN Bengkulu dan penulis buku Tarekat Naqsyabandiyah Pimpinan Prof. DR. H. Kadirun Yahya. Untuk mencatat hasil diskusi, Mozaik menugaskan Bambang Mulyantono dan Suyadi Yusuf menyertai lawatan tersebut. Di sela-sela waktu senggang diskusi, Mozaik mewawancarai Imam Masjid Bengkulu yang sempat menekuni hobi berburu dan main golf ini.

Pada 1971, bersama istrinya Pak Djamaan pergi haji. Tentu saat itu belum menyandang gelar Profesor, bahkan masih S-1 dan menjadi dosen ilmu fiqih di IAIN Bengkulu. Ketika mau berangkat, Dekan-nya berpesan, setelah menunaikan ibadah haji hendaknya menemui seorang syaikh di Mekkah sana untuk menimba ilmu tarekat.   Benar, setelah selesai menunaikan ibadah haji, Pak Djamaan menemui syaikh tarekat yang direkomendasikan atasannya itu.

Saat bertamu di rumah sang syaikh ia mendapat pelajaran yang mengesankan. Syaikh tersebut mengatakan, seorang pengamal tarekat itu segala sesuatu dalam hidupnya di dunia ini harus meniru Rasulullah, penampilan fisik, akhlak, hingga pengalaman rohaninya. Termasuk memelihara jenggot dan mencukur kumis, katanya. Bahkan menurut Sang Syaikh orang yang memelihara kumis adalah Yahudi.

"Setelah saya berdiskusi singkat dengan istri, tentang harus mencukur kumis tidak masalah, tapi memelihara jenggot inilah yang istri saya keberatan. Akhirnya, saya menyampaikan terima kasih atas silaturahmi itu dan mohon dido’akan agar kelak kami mendapatkan guru yang haq untuk menyampaikan ilmu tarekat."

Pada tahun 1991, Pak Djamaan sudah menjadi Ketua MUI Bengkulu. Saat itu ada seorang jamaah tarekat ini yang mengenalkan diri kepada Pak Djamaan, yang intinya minta ijin untuk mengembangkan tarekat ini di Bengkulu. Pak Djamaan mengijinkan dan bahkan penasaran, seperti apa ajaran tarekatnya. Jamaah tersebut menjanjikan akan mempertemukan Pak Djamaan dengan petugas yang secara berkala datang dari Palembang.
Pada suatu sore, ketika petugas dari Palembang itu datang, Pak Djamaan dijemput menemui petugas pemasukan tarekat yang ternyata Abang Drs. H. Abdul Mujib, yang keseharian bekerja di Bank Pacific dan ditugaskan perusahaannya untuk beberapa lama di Palembang. Jamaah tarekat di Bengkulu memang masih dalam hitungan jari saat itu.

Dalam diskusi, Pak Djamaan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari Bang Mujib, apakah ajaran tarekat ini benar-benar berdiri pada syariat yang benar, dan selaku pribadi maupun Ketua MUI Provinsi, ia nyatakan tidak ada keraguan sedikitpun. Maka malam itu juga Pak Djamaan minta diijinkan untuk masuk amalan tarekat ini.

"Dalam prosesi memasuki tarekat, Bapak harus mandi taubat dulu, dan sesuai adab tarekat, mandinya harus mengenakan basahan, jadi Bapak bisa mengambil baju ganti dulu. Setelah mandi, Bapak harus tidur menginap di sini," ucap Bang Mujib kala itu. "Baiklah, saya akan ambil baju ganti," ucap Pak Djamaan

Nah, ketika ambil baju ganti dan ditanya sang istri mau ke mana, karena harus menginap segala, Pak Djamaan bilang kepada istrinya ’mau berburu’. Karena itu penjelasan yang paling singkat dan tepat, apalagi Pak Djamaan memang anggota PERBAKIN dan kerap berburu bareng kawan-kawan hingga pagi hari. "Saya tidak berbohong kan? Karena saat itu saya memang ’berburu ilmu’ yang diajarkan seorang guru," ujar Pak Djamaan kepada Mozaik di Bengkulu beberapa waktu lalu.

"Saya suluk pertama di Medan. Setelah tutup suluk ada acara Hari Guru (Syukuran ulang tahun kelahiran Pendiri Yayasan - red), saya disuruh memimpin pembacaan shalawat. Suluk kedua di Medan, saya mendapat rahmat banyak sekali, dapat kemudahan banyak sekali, antara lain diperkenalkan dengan jajaran petinggi di Universitas Pembangunan Panca Budi. Suluk ketiga di Sawangan, pada suluk di sawangan itu saya termasuk orang yang dituakan, duduknya yang pertama dari orang yang dituakan itu, tahun 1993."

"Kemudian saya diajak Pendiri Yayasan untuk hadir secara bersama-sama menjadi narasumber pada seminar-seminar tentang tasawuf di kampus-kampus, bahkan sesekali mewakili Beliau. Bersama Beliau antara lain seminar di ITB, USU Medan, IAIN Sumatera Utara. Pernah saya mewakili Beliau di UNS Solo, di UGM Yogyakarta, kemudian di ITS."

Pendiri Yayasan juga pernah mengajak saya seminar di Malang, pada waktu itu saya diminta Beliau untuk duduk di podium narasumber, tapi dari kursi undangan Pendiri Yayasan menjelaskan bahwa Tuhan telah menurunkan firman-Nya dalam rupa alam raya, diri manusia dan kitabullah Al Qur’an, dan saya langsung disuruh mencari dalilnya, spontan saya menyebut Fushshilat ayat 53:

"Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terbentang di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga Kebenaran menjadi jelas bagi mereka. Tidakkah cukup (bagimu) bahwa Tuhanmu adalah saksi atas segala sesuatu?"

Seperti itulah salah satu fenomena yang dialami Pak Djamaan ketika mengikuti Pendiri Yayasan dari seminar ke seminar, menemukan dalil-dalil atau ayat-ayat seakan mengalir begitu saja.

Fenomena yang lain adalah ketika Pak Djamaan divonis radang prostat oleh hasil pemeriksaan 2 rumah sakit di Jakarta, dan harus dioperasi. "Tapi setelah saya laporkan kepada Pendiri Yayasan, Beliau mengatakan tidak perlu, kita obati dengan dzikir saja, kata Beliau. Insya Allah," tutur Pak Djamaan.

 
Berikutnya >
Advertisement

BA Login

Berita dan Informasi

Informasi
Kronik
Agenda

Mutiara Kata

Jangan segan untuk mengulurkan tangan anda. Tetapi, jangan anda enggan untuk menjabat tangan orang lain yang datang pada anda.

Pope Jhon XXIII
[+]
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size