Skip to content

Surau Baitul Amin Sawangan

Kampus Artikel Komunitas Kontak
 

Informasi

Bermula dari kegelisahan melihat pemberitaan di media massa yang membuat jengah dan menumpulkan nalar. kami menyaring dan mencari dimana sisi yang benar.

detail
 
Navigasi: Beranda arrow Artikel arrow Profile arrow Tarekat Naqsyabandiyah ditopang Syariat & Science
Tarekat Naqsyabandiyah ditopang Syariat & Science
Ditulis oleh Mozaik   

asep usmanUntuk kedua kalinya, Dr Asep Usman Ismail,  Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah – Jakarta, bersedia meluangkan waktu menerima Mozaik. Pertemuan pertama dengan pengamal Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah ini mengulas  tentang Tasawuf dan Tarekat. Pada pertemuan kedua kali ini, wawancara dengan salah satu penyusun Eksiklopedi Tasawuf ini berkisar seputar Tarekat Naqsyabandiyah. Berikut petikan wawancara yang berlangsung di Kampus ICAS –Universitas Paramadina Plaza 3 - Pondok Indah,  seusai beliau menjadi khatib dan imam Shalat Jum’at (15/5),

Tarekat Naqsyabandiyah dewasa ini menjadi demikian beragam, kira-kira apa penyebab keragamannya,  padahal sumbernya satu yaitu Syaikh Bahauddin Naqsyabandi?

Ditinjau dari sisi keilmuan, keragaman itu hal yang biasa. Karena perbedaan seperti itu juga terjadi pada disiplin ilmu lain; seperti mazhab, ilmu kalam, fiqih, dan lain sebagainya. Kenapa itu terjadi dalam tasawuf?  Karena dalam ilmu ini ada unsur riwayah dan diroyah. Unsur riwayah, dalam ilmu kalam adalah dalil naqli yaitu referensi yang bersifat nash ayat atau hadist. Maka unsur riwayah harus dipertahankan untuk menjaga keotentikannya.

Tarekat  itu, secara harfiah berarti cara, jalan dan metoda atau metodologi yang harus bekerja satu sama lain saling terkait menjadi satu sistemik. Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari metode itu, berikut landasannya. Unsur riwayah dalam tasawuf antara lain ada pada Al Quran Surat Al-Ahzab ayat 41 yang menyatakan : “Hai  orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” Kemudian dilanjutkan ayat 42 : “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” Kedua ayat ini menyebutkan perintah berdzikir dan waktunya --  disebutkan pagi dan petang. Tetapi (kemudian dalam praktiknya) dilakukan setiap selesai shalat.

Kemudian ada riwayah lain tentang perlunya dzikir dalam hati, pada Al Quran Surat Al-A’raf ayat 205 :  “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” Jadi ada dzikir dalam qalbu, kerendahan hati, dan tanpa kata-kata. Karena juga ada ayat yang mengatakan:  ”Kamu jangan menjadi bagian dari umat yang kosong,” (without conection with Allah). Ini aspek riwayah yang menjadi landasan adanya dzikir lisan dan dzikir qalbu.

Tetapi dalam perkembangan tarekat, sebagaimana juga terjadi  pada bidang ilmu yang lain,  ada unsur diroyah. Diroyah itu intervensi akal atau pikiran. Dalam fikih terjadi, misalnya  dalam hal berwudu’, dalam Al Quran Surat Al-Ma’idah ayat 6 : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” Itu riwayah, tetapi para ulama menyusun rukun itu ada 6 (enam). Ini ada intervensi ilmu dan pemikiran, sumbernya menyebutkan empat, akhirnya menjadi enam. Tambahannya ada ‘niat’, kemudian untuk menjaga urutan dari rukun yang 4 (empat) tadi, perlu satu rukun lagi, maka muncullah ‘tartib’ untuk menjaga keotentikan sesuai dengan Al Quran. Allah menyebutnya  kepala, tangan, kaki, dan seterusnya tidak berubah. Inilah korelasi antara riwayah dengan diroyah.

Demikan juga dalam tarekat, sepanjang tetap menjaga keotentikan riwayah perihal dzikir (lisan maupun qalbu), kalaupun terlihat terjadi perubahan,  itu hal yang lumrah. Perubahan tersebut lebih menunjukkan adanya dinamika.

Misalnya tentang jumlah dzikir lisan,  Rasulullah berdzikir Subhanallah, Allahu Akbar, dan lain-lain sebanyak 33 kali.  Begitu sampai ke tokoh tarekat tertentu, bilangannya bisa menjadi ratusan atau ribuan kali.  Bagi orang yang tidak memahami riwayah dan diroyah bisa saja dikatakan itu bid’ah. Ini karena tidak berfikir metodologis. Sepanjang itu masih ada payungnya, yaitu Al Quran yang menyebut secara kualitatif banyaknya dzikir, itu tidak masalah.  Keragaman sangat mungkin dalam menentukan jumlah bilangan wirid.

Adakah ciri pokok atau karakter kuat yang dimiliki oleh Tarekat Naqsyabandiyah?

Ciri pokok Tarekat Naqsyabandiyah sangat menekankan pada pesan yang terkandung dalam surat Al-A’raf 205 tadi  – bagaimana kita bisa mengisi qalbu dengan berdzikir.  Dzikir itu bukan diucapkan,  karena qalbu tidak mengucapkan, tetapi merasakan. Jadi ajaran utama Tarekat Naqsyabandiyah adalah dzikir qalbu. Ciri kedua adalah sangat menekankan hubungan dengan Allah atau rasa ‘harus terisi’. Oleh sebab itu dalam Tarekat Naqsyabandiyah sangat penting konsep talqin. Taqlin menjadi sesuatu yang fundamental, karena menyangkut jalinan antara guru dan murid. Saya menyebut talqin ini sebagai transformasi spiritual.

Dalam talqin ada lima hal yang dilakukan, yang pertama : Mursyid/guru membuka qalbu yang tertutup, jadi kata kuncinya membuka. Di sini, dalam Tarekat Naqsyabandiyah  ditekankan do’a misalnya;  “Allah bukakan qalbu, seperti engkau membuka hati orang  yang mengenal-Mu.” Setelah dibuka, yang kedua, qalbu ini tidak diisi dengan yang lain, tetapi diisi dengan kalimah ‘Allah’. Pada proses ini dibangun jaringan antara qalbu dengan Allah. Maka kejadian selanjutnya, mengalir Cahaya Allah ke dalam qallbu, cahaya ini bisa berupa kesadaran, merasa rindu kapada Allah, dan ini membuat dzikir qalbu bekerja. Yang keempat terjadi perluasan cahaya kesadaran/pencerahan tersimpan dalam qalbu. Yang kelima karena qalbu mengandalkan kesadaran pikiran, kesadaran sikap, maka dari qalbu itu akan mengalir ke dalam perilaku. Begitulah konsep talqin dalam Tarekat Naqsyabandiyah.

Jadi perbedaan seperti apa yang terjadi pada sejumlah (cabang) Tarekat Naqsyabandiyah?

Lebih pada tata caranya, misalnya : Apakah lingkaran berdzikir perlu berhadap-hadapan, Apakah calon murid perlu berpuasa sebelum masuk, duduknya bagaimana, dan lain sebagainya. Jadi jenis, teknis dan kurikulum tentang pelatihan kerohanian-nya yang berbeda. Terhadap urutan-urutan  tu semua,  seorang mursyid punya otoritas sesuai  dengan kapasitas muridnya, serta sesuai dengan keadaan zamannya. Di sini maka terjadi dinamika yang sesungguhnya  merupakan  respon terhadap perubahan zaman.

Dari beberapa sumber sejarah, ternyata Tareqat Naqsyabandiyah  pernah berganti nama beberapa kali. Apakah itu betul?

Jawabannya dari segi teoritis dulu, kalau fakta sejarahnya silakan dibaca. Ketika menyebut tarekat maka disini ada metodologi, ada unsur diroyah. Tarekat Naqsyabandiyah itu berarti sebuah metode yang dikembangkan Syaikh Naqsyabandi. Kemudian kadang kala penyebutan metodologi tersebut merujuk kepada diri pengembangnya sebagai penanda dari metodologi lain yang ‘sejenis’. Namun, ketika ada nama baru yang muncul, tetap saja yang punya rumusan awal tidak dilupakan begitu saja.

Pada suatu daerah tertentu di Indonesia, ada sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan jamaah Tarekat Naqsyabandiyah. Mereka cukup populer di Tanah Air karena kerap berbeda dalam menentukan awal puasa dan lebaran. Bagaimana pendapat Bapak?

Sebetulnya tarekat itu tidak berbicara tentang (waktu) lebaran. Ini berkaitan dengan melihat hilal. Jangan-jangan mereka mempertahankan pendapat tertentu tanpa dukungan ilmu. Saya kira yang terjadi di sana adalah perkembangan tarekat tanpa science, maka akan tertinggal. Syaikh Naqsyabandi tidak seperti itu, beliau mengajarkan pemahaman dzikrullah yang ditopang oleh syariat yang kuat dan science. Kalau dalam penentuan penanggalan (ru’yah) seiring dengan kemajuan zaman dapat dilakukan dengan teknologi yang terbaru, ikuti saja metode itu.

Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah menekankan pada; Pertama,  mensucikan jiwa dari dosa besar dan sifat tercela lainnya. Kedua, bagaimana seorang hamba mendekatkan dengan Allah. Ketiga, bagaimana seseorang beriman, menjalankan syariat Islam yang benar dan berperilaku sehari-hari secara Ihsan. *

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement

BA Login

Berita dan Informasi

Informasi
Kronik
Agenda

Mutiara Kata

Adalah baik untuk memberi ketika diminta, tapi jauh lebih baik lagi jika memberi tanpa harus diminta.

(Kahlil Gibran)
[+]
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size