| Teman- Teman Yang Baik…, Di Surau Baitul Amin kita sekarang ada tempat main yang asyik buat teman- teman semua, namanya Kid’z Point Baitul Amin. Seru deh, di sana ada mainan banyak untuk main bersama dengan teman- teman kalian yang lain, tapi ingat ya.. walaupun lagi main seru… kita tetap harus jadi teman yang baik buat teman kita yang lain. | |
| detail |
| Akrab dengan Tasawuf |
| Ditulis oleh Baitul Amin | |
|
Masih segar dalam ingatan 5.000-an orang yang hadir. Pada 16 November 2008 lalu Surau Baitul Amin Sawangan - Depok menyelenggarakan tabligh akbar dengan tema "Bersama Menuju Muslim Kaffah." Tausyiah yang disampaikan Syeikh KH. Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya selaku Ro'is A'am Jami'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), da'i muda Ustadz Ahmad Al-Habsyi, Prof. Dr. KH Djamaan Nur - Guru Besar STAIN Bengkulu, dan Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, kiranya menambah pemahaman bagi jamaah dan masyarakat luas tentang ajaran Islam yang kaffah itu. Sehingga apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka akan menjadikan muslim yang kaffah. Selain menyimak materi tausyiah, bersyukur Mozaik mendapat kesempatan wawancara khusus dengan Syeikh KH. Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Habib Luthfi), sebelum beliau menyampaikan tausyiah. Materi wawancara antara lain seputar tasawuf dan tarekat. Di awal wawancara Habib Luthfi mengingatkan pada Mozaik agar memberikan tulisan perihal tasawuf secara benar, jernih, dan menyejukkan. "Fenomena hidup sekarang ini telah mendorong banyak orang untuk mencari makna hidup dan kehidupan yang lebih bermakna. Mereka sesungguhnya sangat haus akan jiwa agama yang terkandung begitu indahnya dalam tasawuf. Tulislah tentang teladan kehidupan para sufi, amalan-amalan tarekat-nya, wirid, dzikir, munajat, yang dikerjakan para sufi dalam perjalanan rohaninya yang patut diteladani oleh kita semua," pesan Habib Luthfi.
Tentang pertanyaan mengapa 'istilah' tasawuf tidak ada pada zaman Rasulullah, pria yang berdomisili di Pekalongan ini menjelaskan, para sahabat Rasulullah itu orang-orang hebat. "Pola pikir mereka sungguh luar biasa. Begitu turun wahyu, Rasulullah berbicara, itulah yang mereka 'sadap', mereka terima, lalu diamalkan. Kalau kita (saat ini) 'kan menerima Al Quran sudah sempurna. Tiga puluh juz, kitab-kitab sudah banyak, tapi belum tentu isi Al Quran kita bisa melakukan semuanya. Kalau beliau-beliau itu, sudah menamatkan apa isi Al Quran. Begitu satu ayat, dua ayat turun, beliau-beliau langsung mengamalkan. Berapa bulan kemudian ada lagi surat ini, yang sebelumnya sudah diamalkan, turun lagi ayat berikutnya, lalu pengamalannya disempurnakan. Makanya pada zaman sahabat, hidupnya sudah tasawuf. Tidak perlu (belajar) tasawuf. Justru sekarang inilah yang perlu tasawuf," tandas Habib. "Jadi, inti tasawuf bersumberkan pada akhlak Rasulullah. Kemudian membersihkan hati dari segala bentuk ke tawaddu'-an dari yang selain Allah. Yang ketiga, tasawuf min ahlil ma'rifah. Ini tingkatannya lain." imbuh Habib.
"Satu hal lagi seputar shalat khusyu'. Begitu Allahu Akbar masih belum hilang pikiran-pikiran tentang pasar, keluarga, ini dan itu. Nah, tasawuf tugasnya membersihkan dari ini. Tidak cukup di situ. Sampai dengan riya' itu sendiri dibasmi dengan tasawuf. Itu tugasnya tasawuf. Caranya dengan apa? Dengan tarekat. Landasan tarekat adalah Al Ihsan. Engkau menyembah (beribadah) kepada Allah seolah kamu melihatNya; jika kau tidak dapat (merasakan untuk) melihatNya, sesungguhnya Allah melihatmu," papar Habib. "Nah, yang terpenting, apa yang Anda lakukan setelah merasa didengar dan dilihat oleh Allah Ta'alaa. Apa reaksi Anda? Apakah sebagai patung saja, bahwa saya bagian yang dilihat? Ataukah tumbuh rasa malu Anda sebagai bagian yang dari yang dilihat? Kalau tumbuh rasa malu, maka berubahlah kelakuannya. Nah, ini tugas tarekat. Ini yang mendorong untuk merekat-dekat dengan Allah. Kalimah Laa Ilaaha Illallah tugasnya untuk mengganti kotoran (hati) yang telah terukir, seperti hasut, dengki, sombong dan takabur. Sehingga kalau kita merasa dilihat dan didengar, sifat malu akan selalu mengiringi kita. Malu mengumpat orang lain karena kita tidak lebih baik dari orang itu. Kemudian menerima dengan ikhlas apapun rezeki dari Allah - nyatanya kita tidak bisa membuat sebutir nasi sekalipun. Bila tidak puas atau mengambil hak orang lain, kita malu sama yang memberi rezeki secara adil. Itulah tarekat," lanjutnya. Batu cincin yang paling mahal, bila tangkainya terbuat dari tembaga kiranya tidak pantas. Akidah, tauhid itu bagaikan batu yang tidak ternilai harganya itu. Agar pantas dan seimbang gunakanlah tangkai dari emas putih, misalnya. Nah, emas putih itu fiqihnya. Cara memakainya, agar ia tidak tergores, itulah tasawuf - mozaik |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


