| Teman- Teman Yang Baik…, Di Surau Baitul Amin kita sekarang ada tempat main yang asyik buat teman- teman semua, namanya Kid’z Point Baitul Amin. Seru deh, di sana ada mainan banyak untuk main bersama dengan teman- teman kalian yang lain, tapi ingat ya.. walaupun lagi main seru… kita tetap harus jadi teman yang baik buat teman kita yang lain. | |
| detail |
| Inspirasi Masyarakat Madani |
| Ditulis oleh Baitul Amin | |
|
Hijrah bukanlah sekadar perubahan alamat. Menurut Karen Armstrong dalam Islam; Sejarah Singkat ,di Jazirah Arab sebelum Islam, suku adalah nilai suci. Meninggalkan kelompok darah sendiri dan bergabung dengan suatu kelompok darah orang lain adalah suatu hal yang belum pernah terdengar. Hal ini dianggapnya menghina nenek-moyang sendiri dan kaum Quraisy tidak bisa memaafkan kesalahan ini. Maka kaum Quraisy bersumpah untuk memusnahkan ummah (Islam) di Yatsrib. Nabi Muhammad SAW telah menjadi kepala sebuah kumpulan dari kelompok-kelompok kesukuan yang tidak terikat oleh darah, tetapi karena suatu ideologi bersama, sebuah inovasi yang mengagumkan di masyarakat Arab masa itu. Tidak ada seorang pun yang terpaksa berubah menjadi beragama Qur’an, malah sebaliknya ; kaum Muslim, pemuja berhala, Yahudi dan Nasrani, semuanya menjadi satu ummah, tidak saling menyerang, dan berjanji untuk saling melindungi.
Bangunan masjid yang amat sederhana itulah yang mengasuh manusia-manusia beriman teguh yang akan memberi pelajaran kepada penguasa dunia lalim. Mereka itulah yang akan menjadi raja-raja di akhirat. Di dalam masjid itulah Allah SWT memperkenankan Nabi dan Rasul-Nya memimpin manusia-manusia beriman yang terbaik berdasarkan Al-Qur’an. Di dalam masjid itu pulalah beliau siang- malam mendidik mereka supaya menghayati kehidupan sebagaimana dikehendaki Allah SWT. Seluruh aktivitas Rasulullah SAW dicurahkan untuk meletakkan dasar-dasar yang sangat diperlukan guna menegakkan tugas-tugas risalahnya, yaitu: (1) Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Tuhannya, (2) Memperkokoh hubungan antar umat Islam. (3) Mengatur hubungan antara umat Islam dengan orang-orang non-muslim. Hubungan sesama muslimin, oleh Rasulullah dibina atas dasar rasa persaudaraan yang sempurna, yaitu persaudaraan yang menghapuskan kata ‘aku’, hingga setiap orang bergerak dengan semangat dan jiwa kemasyarakatan tanpa memandang dirinya secara terpisah dari masyarakat. Dengan persaudaraan seperti itu berarti lenyaplah fanatisme kesukuan ala jahiliyah dan tak ada semangat pengabdian selain kepada agama Islam. Runtuhlah sudah semua bentuk diskriminasi keturunan, warna kulit dan asal-usul kedaerahan atau kebangsaan. Mundur dan majunya seorang tergantung pada kepribadian dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Rasululah SAW menjadikan tali persaudaraan sebagai ikatan perjanjian yang nyata, bukan hanya sekadar ucapan yang tak berarti. Pada masa itu Rasulullah ibarat abang tertua bagi jamaah kaum yang beriman. Beliau tidak mengistimewakan diri dengan gelar kebesaran. Sebuah Hadist meriwayatkan bahwa beliau pernah menegaskan, "Sekiranya aku mengangkat seorang saudara dari umatku, tentu aku telah mengangkatnya" yakni Abu Bakar tetapi persaudaraan Islam adalah lebih afdhal. Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad menulis, persaudaraan sejati tidak mungkin tumbuh di dalam suatu lingkungan yang bermutu rendah. Dalam lingkungan masyarakat yang masih dikuasai oleh kebodohan, kemerosotan akhlak dan kekejaman, persaudaraan sejati dan rasa cinta kasih tak akan dapat tumbuh subur. Seandainya para sahabat Nabi SAW tidak berperangai luhur dan tidak dipersatukan oleh prinsip-prinsip agung, dunia tidak akan mencatat adanya persudaraan sejati yang semata-mata karena Allah. Mengenai hubungan antara muslim dengan non-muslim, Rasulullah SAW telah menetapkan aturan-aturan yang sangat toleran, yang belum dikenal di zaman yang penuh dengan fanatisme kesukuan dan kecongkakan ras. Siapapun yang beranggapan bahwa Islam adalah agama yang tidak bisa menerima prinsip hidup berdampingan dengan agama lain, dan bahwa kaum Muslim adalah orang-orang yang berambisi menguasai dunia, berarti dia telah salah memahami Islam atau termakan oleh omongan pihak lain. Ketika Nabi SAW tiba di Madinah beliau menyaksikan orang-orang Yahudi telah lama bermukim di kota itu dan hidup bersama-sama kaum musyrikin. Beliau sama sekali tidak berencana untuk menyingkirkan mereka. Bahkan beliau dapat menerima keberadaan orang-orang Yahudi dan paganisme di kota itu. Beberapa waktu kemudian beliau menawarkan perjanjian perdamaian kepada dua golongan itu atas dasar kebebasan masing-masing pihak memeluk agamanya sendiri. Dalam piagam tersebut kebebasan beragama
benar-benar dijamin sehingga di dalamnya tidak tersirat maksud untuk
menyerang suatu kelompok atau menindas kaum lemah. Bahkan, menunjukkan
kewajiban semua pihak yang berjanji supaya menolong orang yang mendapat
perlakuan zalim, menjaga dan memelihara hubungan baik dengan tetangga,
melindungi dan memelihara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


